
FLUTD pada kucing perlu mendapat penanganan cepat. Kondisi ini bisa membuat kucing sulit buang air kecil, sering mengejan, muntah, lemas, bahkan mengalami kondisi darurat.
Kasus ini terjadi pada Cimi, kucing Persia jantan berusia 2 tahun dan belum steril. Pemilik membawa Cimi ke Klinik Hewan Bummi Sepatan Tangerang karena Cimi tampak lemas, muntah, dan tidak mau makan seperti biasa.
Keluhan Awal Cimi di Rumah
Berdasarkan cerita pemilik, Cimi mulai mengalami penurunan makan dan minum selama 2 hari. Selain itu, Cimi sering keluar masuk litter box untuk buang air kecil.
Namun, urine yang keluar hanya sedikit. Cimi juga terlihat mengejan kuat saat ingin pipis. Pemilik semakin khawatir karena melihat bercak darah di litter box.
Keluhan seperti ini tidak boleh diabaikan. Pada kucing jantan, sulit pipis bisa berkembang menjadi kondisi darurat.
Hasil Pemeriksaan Dokter Hewan
Saat sampai di klinik, dokter hewan melihat Cimi dalam kondisi lemas. Cimi juga mengalami muntah, nafsu makan turun, minum berkurang, dan tampak dehidrasi.
Pada pemeriksaan fisik, dokter menemukan vesica urinaria atau kandung kemih masih teraba. Suhu tubuh Cimi juga rendah, yaitu 37,6°C.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Cimi membutuhkan pertolongan segera. Dokter kemudian menilai riwayat keluhan, kondisi tubuh, dan tanda klinis yang muncul.
Dari hasil pemeriksaan dan anamnesa, dokter mengarah pada dugaan FLUTD pada kucing dengan gangguan pada saluran kemih bawah.
Apa Itu FLUTD pada Kucing?
FLUTD adalah singkatan dari Feline Lower Urinary Tract Disease. Kondisi ini menyerang saluran kemih bawah kucing, terutama kandung kemih dan uretra.
Penyakit ini dapat menyebabkan rasa sakit saat pipis. Kucing juga bisa sering masuk litter box, mengejan, pipis sedikit, atau mengeluarkan urine bercampur darah.
Pada kasus yang lebih serius, saluran pipis dapat tersumbat. Jika sumbatan terjadi, urine akan menumpuk di kandung kemih. Kondisi ini bisa memicu keracunan urea dalam tubuh dan membuat kucing muntah.
Karena itu, FLUTD pada kucing termasuk kondisi yang perlu segera diperiksa oleh dokter hewan.
Mengapa Cimi Muntah dan Tidak Mau Makan?
Cimi muntah dan tidak mau makan karena tubuhnya mulai terganggu akibat masalah pada saluran kemih. Saat urine tidak keluar dengan lancar, zat sisa metabolisme dapat menumpuk di dalam tubuh.
Penumpukan ini membuat tubuh kucing terasa tidak nyaman. Akibatnya, kucing bisa lemas, mual, muntah, dan menolak makan.
Pada Cimi, tanda ini terlihat jelas. Cimi sudah makan dan minum lebih sedikit selama 2 hari. Kondisi dehidrasi juga membuat tubuhnya semakin lemah.
Penanganan Dokter Hewan untuk Cimi
Dokter hewan segera memberikan terapi cairan karena Cimi mengalami dehidrasi. Terapi cairan membantu tubuh Cimi tetap stabil dan mendukung proses pemulihan.
Setelah itu, dokter melakukan pemasangan kateter urine. Tindakan ini bertujuan untuk membantu urine keluar dan mengurangi tekanan pada kandung kemih.
Dokter mempertimbangkan kondisi Cimi dengan hati-hati karena suhu tubuhnya rendah dan Cimi sudah tidak mau makan di rumah. Karena itu, dokter memilih tindakan sesuai kondisi pasien.
Beberapa jam setelah kateter terpasang dan kondisi Cimi lebih stabil, tim klinik mulai memberikan makanan khusus urinary. Makanan ini membantu mendukung kesehatan saluran kemih Cimi.
Terapi Selama Rawat Inap
Selama berada di klinik, Cimi mendapat perawatan intensif. Selain infus cairan dan kateter, Cimi juga mendapat terapi sesuai indikasi dokter.
Terapi yang diberikan meliputi antibiotik, antinyeri, obat untuk membantu melancarkan pipis, serta obat peluruh sesuai kondisi saluran kemihnya.
Dokter dan tim klinik juga melakukan flushing saluran pipis setiap pagi melalui kateter. Tindakan ini membantu membersihkan saluran pipis dari sumbatan, darah, lendir, atau endapan yang mengganggu aliran urine.
Perawatan seperti ini membutuhkan pemantauan ketat. Dokter perlu melihat warna urine, kondisi kandung kemih, nafsu makan, aktivitas, dan respons tubuh pasien.
Perkembangan Cimi Hari demi Hari
Pada hari kedua setelah kateter terpasang, dokter melakukan flushing kembali. Saat itu, urine Cimi masih bercampur darah. Kandung kemih juga masih teraba.
Namun, Cimi mulai menunjukkan perkembangan positif. Cimi terlihat lebih aktif dibanding hari pertama datang ke klinik.
Pada hari ketiga sampai hari kelima, flushing dilakukan setiap pagi dan sore. Warna urine mulai membaik. Urine tidak lagi bercampur darah dan mulai tampak kuning pekat.
Selain itu, kandung kemih Cimi sudah tidak teraba seperti sebelumnya. Hal ini menunjukkan aliran urine mulai membaik.
Kateter dan Infus Dilepas
Kateter dipasang selama 5 hari. Pada hari kelima, kondisi Cimi terlihat semakin membaik. Urine sudah berwarna kuning dan mulai menyerupai warna urine normal.
Kandung kemih juga sudah tidak teraba. Karena kondisi Cimi stabil, dokter kemudian melepas kateter dan infus.
Setelah itu, tim klinik menaruh litter box di dalam kandang untuk observasi lanjutan. Hasilnya, Cimi sudah bisa pipis cukup banyak di litter box.
Cimi juga mulai grooming tubuhnya sendiri. Perilaku ini menjadi tanda baik karena Cimi mulai merasa lebih nyaman dan lebih aktif.
Akhirnya, Cimi boleh pulang dan melanjutkan terapi di rumah. Dokter juga memberikan catatan penting: Cimi harus mengonsumsi makanan urinary sesuai arahan dokter hewan.
Faktor Risiko FLUTD pada Kucing
FLUTD pada kucing dapat muncul karena beberapa faktor. Pada kucing jantan, risiko sumbatan lebih tinggi karena saluran uretra lebih sempit.
Selain itu, beberapa faktor lain juga dapat memicu masalah saluran kemih, seperti:
- kurang minum;
- pakan yang tidak sesuai kebutuhan;
- stres;
- berat badan berlebih;
- perubahan lingkungan;
- faktor genetik;
- kurang aktivitas;
- kondisi belum steril pada beberapa kucing yang mudah stres atau sering gelisah.
Karena penyebabnya bisa beragam, pemilik sebaiknya tidak menebak sendiri. Pemeriksaan dokter hewan membantu menentukan penanganan yang tepat.
Tanda FLUTD pada Kucing yang Perlu Diwaspadai
Segera bawa kucing ke dokter hewan jika muncul tanda berikut:
- sering keluar masuk litter box;
- mengejan saat pipis;
- urine hanya sedikit atau menetes;
- ada darah di urine;
- kucing menangis saat pipis;
- sering menjilat area kelamin;
- tidak mau makan;
- muntah;
- lemas;
- perut tampak tidak nyaman.
Jika kucing jantan tidak bisa pipis sama sekali, jangan menunggu. Kondisi ini termasuk darurat dan perlu tindakan cepat.
Kenapa Kucing FLUTD Harus Makan Makanan Urinary?
Pada kasus Cimi, dokter menyarankan makanan urinary setelah kondisi mulai stabil. Makanan urinary membantu mendukung kesehatan saluran kemih.
Jenis makanan ini biasanya dokter pilih sesuai kondisi pasien. Tujuannya untuk membantu mengurangi risiko kekambuhan dan mendukung pemulihan kandung kemih.
Namun, pemilik tidak boleh mengganti makanan secara sembarangan. Setiap kucing punya kondisi berbeda. Karena itu, ikuti arahan dokter hewan yang memeriksa langsung.
Cimi Pulih Setelah Perawatan Intensif
Kasus Cimi menunjukkan bahwa FLUTD pada kucing bisa memburuk jika terlambat ditangani. Awalnya, Cimi datang dalam kondisi lemas, muntah, dehidrasi, sulit pipis, dan urine bercampur darah.
Setelah mendapat infus, kateter, flushing rutin, terapi obat, makanan urinary, dan observasi intensif, kondisi Cimi membaik. Cimi bisa pipis kembali, lebih aktif, dan mulai grooming tubuhnya sendiri.
Pemilik kemudian membawa Cimi pulang untuk melanjutkan terapi di rumah sesuai instruksi dokter.
Periksa Kucing Sulit Pipis di Klinik Hewan Bummi Sepatan Tangerang
Jika kucing sering keluar masuk litter box, pipis sedikit, mengejan, muntah, atau terlihat lemas, segera lakukan pemeriksaan.
Klinik Hewan Bummi Sepatan Tangerang siap membantu pemeriksaan dan penanganan masalah kesehatan kucing, termasuk gangguan saluran kemih seperti FLUTD.
Untuk konsultasi dan booking pemeriksaan, hubungi WhatsApp:
+62 819-9993-8330
Jangan tunggu sampai kucing tidak bisa pipis sama sekali. Pemeriksaan lebih cepat dapat membantu mencegah kondisi menjadi lebih berat.
